3 Nama Lempar Jumrah dan Cerita di Baliknya

Lempar jumrah merupakan salah satu wajib haji yang dilakukan selama bulan Dzulhijjah. Ibadah ini dilakukan dengan melempar kerikil ke tiga pilar yang disebut dengan ‘jamarat’ yang terletak di Kota Mina, tepat di sebelah timur Kota Makkah.

Tiga pilar yang menjadi tempat melempar jumrah merupakan pelambangan iblis sekaligus pengusiran kejahatan dan pemikiran duniawi yang harus ditinggalkan. Tiga pilar tersebut adalah Ula, Wustha, dan Aqabah.

Sebelum melakukan lempar jumrah, jamaah haji terlebih dahulu bermalam di Muzdalifah. Selama di Muzdalifah ini, para jamaah juga mengumpulkan 49 hingga 70 batu untuk melempari tiga pilar yang melambangkan setan pada tanggal 10 Dzulhijjah.

Batu yang digunakan untuk melempar jumrah harus ditemukan dalam keadaan alami, bukan pecahan dari batu yang lebih besar. Jamaah haji juga tidak diperbolehkan untuk menggunakan batu mulia atau logam karena boros dan berbahaya. Sementara ukuran batu tidak boleh lebih besar dari kacang lentil agar tidak membahayakan orang lain jika tidak sengaja terpental.

Tiga Nama Lempar Jumrah dan Cara Melakukannya

Dalam melakukan lempar jumrah, terdapat tiga pilar yang bernama Ula, Wustha, dan Aqabah. Sementara tata cara melempar jumrah berbeda di setiap tanggalnya, yaitu 10, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Selain itu, jumlah pelemparan jumrah juga dipengaruhi seberapa lama jamaah menginap di Kota Mina. Lantas bagaimana cara melakukannya? yuk simak penjelasannya berikut ini.

Lempar jumrah pertama kali dilakukan pada 10 Dzulhijjah dengan melemparkan tujuh kerikil ke pilar Aqabah. Setelah pelemparan ini, para jamaah diharuskan untuk mencukur rambutnya sesuai dengan ketentuan.

Selanjutnya pada hari tasyrik, yaitu 11-13 Dzulhijjah, dilakukan lempar jumrah lagi pada masing-masing pilar. Sebanyak tujuh kerikil dilempar ke masing-masing pilar. Pertama, yaitu melempar jumrah Ula sebanyak tujuh kerikil. Kedua, lemparan dilakukan pada pilar Wustha sebanyak tujuh kerikil. Serta lemparan jumrah ketiga yaitu Aqabah sebanyak tiga kerikil.
Jika jamaah memilih untuk bermalam lagi di Mina, maka jamaah tersebut harus melakukan lempar jumrah lagi keesokan harinya.

Ketika melempar jumrah, jamaah tidak hanya melemparkannya begitu saja, melainkan dianjurkan untuk berdzikir dan bertakbir.

Sejarah

Lempar jumrah merupakan salah satu wajib haji yang diambil dari peristiwa antara Nabi Ibrahim AS dan Iblis yang menggodanya. Kala itu 10 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim diperintahkan Allah SWT untuk mengorbankan putranya, yaitu Nabi Ismail AS.

Ketika dalam perjalanan melaksanakan perintah Allah SWT ini, iblis berulang kali mencoba untuk mencegah Nabi Ibrahim AS. Kemudian datanglah Malaikat Jibril yang memerintahkan untuk melempar kerikil ke arah iblis.

Peristiwa ini kemudian diabadikan sebagai salah satu wajib haji. Setiap tahunnya jutaan umat islam yang melakukan ibadah haji melakukannya untuk mengenang bagaimana patuhnya Nabi Ibrahim AS terhadap perintah Allah SWT.

Selain itu, lempar jumrah juga memiliki makna simbolik sebagai salah satu kepatuhan penuh terhadap perintah Allah SWT tanpa ada yang bisa menghalangi. Meskipun harus mengorbankan anak kesayangannya, Nabi Ibrahim AS tetap rela melakukannya dan mengesampingkan keinginannya demi mematuhi perintah Allah SWT.

Melempar kerikil ke arah iblis bukan berarti iblis benar-benar hadir di tempat itu, melainkan merupakan salah satu latihan iman dan bukti bahwa orang-orang percaya dan mampu melawan pikiran dan keinginan duniawi yang merupakan hasutan iblis.

Meskipun jamaah haji melakukan pelemparan ke pilar-pilar jamarat, tetapi kenyataannya mereka melemparkannya ke arah iblis yang mengganggu. Hal ini mengingat tidak ada yang lebih mengganggu daripada iblis yang melarang manusia untuk taat kepada Allah SWT.

Leave a Reply

Your email address will not be published.